Pengerjaan jalan menjelang penutupan TMMD ke-126 Kodim 1606/Mataram, Rabu (05/11/2025). FOTO IST/GERBANG INDONESIA

Jejak TMMD: Kebersamaan yang Sederhana Namun Penuh Makna

Sudah hampir sebulan, loreng para prajurit TNI berpadu dengan pakaian kerja warga Desa Dasan Geria dan Desa Giri Madia, Kecamatan Lingsar. Di bawah terik matahari dan di antara hamparan sawah yang mulai menguning, suara cangkul, tawa, dan komando ringan berpadu menjadi harmoni kebersamaan yang jarang ditemui.

Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen

Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, warga datang membawa alat seadanya, sekop, ember, dan tekad kuat untuk ikut bekerja. Di sisi lain, para prajurit Satuan Tugas (Satgas) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1606/Mataram menyambut mereka dengan senyum hangat. Tak ada jarak, tak ada perintah yang kaku. Semua bergerak dengan satu tujuan, menyelesaikan pembangunan demi kemajuan desa.

“Selama hampir sebulan ini kami sudah seperti keluarga. Makan bersama, bekerja bersama, bahkan bergurau seperti teman lama,” ujar Sertu Hasan Basri, salah satu anggota Satgas TMMD yang memimpin pengerjaan pompa air dan jalan desa, Rabu (05/11/2025).

Baginya, TMMD bukan sekadar program pembangunan fisik. Ia melihatnya sebagai ladang silaturahmi yang mempertemukan dua kekuatan besar bangsa, TNI dan rakyat, dalam kerja yang tulus dan nyata.

“Kami membangun jalan, tapi sesungguhnya kami sedang merajut persaudaraan,” ujarnya sambil tersenyum.

Suasana gotong royong itu tampak di setiap sudut desa. Di Dusun Awang Madia, warga dan anggota TNI bersama-sama menarik pipa air sejauh satu kilometer, melintasi medan berbukit dan jalan berlumpur. Di Dusun Gubuk Baru, sebagian lain sibuk merapikan talud dan saluran irigasi. Ada pula yang menyiapkan konsumsi untuk para pekerja di dapur umum sederhana.

“Semangat warga Giri Madia ini luar biasa. Mereka datang tanpa diminta, ikut bekerja karena merasa memiliki proyek ini. Itulah yang membuat pekerjaan cepat selesai,” ungkap Kapten Inf Saparudin, Komandan Satuan Setingkat Kompi (Dan SSK) TMMD ke-126.

Tak hanya fisik, TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik, berupa penyuluhan hukum, sosialisasi bahaya narkoba, hingga pendidikan wawasan kebangsaan bagi anak-anak. Setiap kegiatan mendapat sambutan hangat dari masyarakat, menandakan bahwa program ini tak hanya membangun infrastruktur, tapi juga membangun karakter.

Kepala Desa Giri Madia, Samiudin menyebut bahwa TMMD sebagai momentum penting bagi desanya.

“Dulu jalan ke sawah susah, irigasi sering mampet, dan akses antar dusun terputus kalau hujan. Sekarang semuanya berubah. Tapi yang paling berharga dari TMMD adalah kebersamaan. Warga kami belajar arti gotong royong yang sesungguhnya,” katanya.

Sementara itu, Komandan Kodim 1606/Mataram sekaligus Dansatgas TMMD, Kolonel Inf Nyarman, M.Tr (Han), menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat. Ia menilai TMMD ke-126 di Lombok Barat menjadi salah satu yang paling solid dari segi partisipasi warga.

“TMMD bukan hanya tentang membangun jembatan atau membuka jalan baru, tapi tentang membangun kepercayaan dan solidaritas sosial. Inilah makna kemanunggalan TNI dan rakyat yang sejati,” tegasnya.

Menjelang hari penutupan TMMD, wajah-wajah lelah namun bahagia tampak di antara para prajurit dan warga. Setiap tetes keringat yang jatuh di tanah Giri Madia seolah menjadi benih harapan baru bagi kehidupan yang lebih baik. Jalan yang terbentang kini bukan hanya jalur penghubung antar dusun, tapi juga simbol perjalanan panjang menuju kemandirian dan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.

“Kalau nanti TMMD berakhir, kami pasti rindu suasana ini,” ucap H. Ulul (54), warga setempat yang setiap hari ikut membantu di lokasi.

“TNI dan warga di sini sudah seperti saudara. Kami kerja bareng, makan bareng, tertawa bareng. Rasanya berat kalau mereka pergi,” tambahnya sambil tersenyum.

Baca Juga: Saat Tentara Datang Membawa Pesan Melawan Narkoba

TMMD ke-126 meninggalkan lebih dari sekadar bangunan fisik. Kemanunggalan, menorehkan kisah tentang semangat gotong royong, cinta tanah air, dan persaudaraan yang sederhana namun penuh makna, warisan yang akan terus hidup di hati masyarakat desa, jauh setelah deru alat berat berhenti dan bendera TMMD diturunkan. (*)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here