
Gerbangindonesia, Lombok Utara – Gelombang keluhan terhadap pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Amerta Dayan Gunung kembali mencuat di media sosial. Sejumlah pelanggan di berbagai wilayah Lombok Utara menumpahkan kekesalan mereka melalui unggahan dan komentar di Facebook.
Mereka menilai pelayanan air bersih dari PDAM semakin buruk, bahkan ada yang menyebut air hanya mengalir di malam hari, sementara di pagi hingga sore hari pelanggan tidak mendapatkan pasokan sama sekali.
Salah satu pelanggan, akun Fahrozi Ozi, dalam unggahannya mengaku kecewa dengan pelayanan PDAM Amerta Dayan Gunung. Ia menilai pihak PDAM tidak profesional dalam melayani kebutuhan dasar masyarakat.
“Main-main mau cabut kilometer, sedangkan pelayanan tidak sepadan. Air di wilayah kami, Dusun Menggala, Kecamatan Pemenang, hanya mengalir pada malam hari. Di pagi hari air tidak pernah datang. Lelah kami begadang menunggu air, kalau bayar tidak bisa telat, bawa linggis palu mau cabut kilometer,” tulisnya, Rabu (05/11/2025).
Unggahan Fahrozi itu sontak menuai banyak tanggapan dari pelanggan lainnya yang turut mengalami hal serupa. Salah satunya, Cakrawati, yang ikut berkomentar meminta PDAM agar tidak menutup mata terhadap keluhan masyarakat. Pasalnya, Desa Menggala merupakan kediaman Bupati Lombok Utara H. Najmul Akhyar, menjadi miris kemudian jika layanan air di sana justru kerap macet.
“Untuk PDAM, tolong dengarkan keluhan pelanggan. Jangan salahkan kalau nanti seluruh pelanggan di Lombok, khususnya yang terdampak macet air, marah. Bahaya juga tuh. Airnya mengalir saat malam doang. Kami ini kan beli air, bukan gratisan. Semoga bisa jadi perhatian yang serius,” kesalnya.
Nada kekecewaan juga datang dari Akun Facebook Yulian Yuli We, yang menyoroti ketidakseimbangan antara kewajiban pelanggan membayar dan pelayanan yang diterima.
“Bapak, air tidak datang tapi tetap bayar mahal. Kalau telat bayar langsung mau dicabut kran. Coba deh dipikir sedikit, masak air nggak datang tapi tetap bayar,” katanya.
Keluhan senada juga diungkapkan Akun bernama Aryaswaka, warga yang mengaku sudah berbulan-bulan tidak menerima aliran air di rumahnya.
“Saya juga mengalami hal serupa. Sudah hampir empat bulan air di tempat kami tidak pernah mengalir. Beberapa warga akhirnya membuat sumur bor meski biayanya mahal, karena air sangat dibutuhkan untuk kebutuhan keluarga. Kami tetap bayar setiap bulan karena takut didenda, tapi air yang kami bayar tidak pernah datang setetes pun,” jelasnya.
Meningkatnya keluhan pelanggan ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam manajemen dan distribusi air PDAM Amerta Dayan Gunung. Di tengah kewajiban pelanggan untuk tetap membayar tagihan setiap bulan, pelayanan yang diterima justru dinilai tidak sebanding.
Sementara itu, Direktur PDAM Amerta Dayan Gunung Ramdhan Jayadi yang dikonfirmasi, belum memberikan tanggapan atas keluhan pelanggan tersebut.(iko)






