Zulkarnain saat membacakan Janji Atlet saat pembukaan Porwada PWI NTB 2026, Jumat (26/06/2026). FOTO IST/GERBANG INDONESIA

​Di bawah terik matahari siang yang membakar lapangan Sport Center Universitas Mataram (Unram), Jumat (26/06/2026), sebuah suara lantang menggema di tengah ratusan pasang mata. Dengan postur tegap dan tatapan lurus penuh keyakinan, pria itu membacakan “Janji Atlet”. Di dadanya tersirat kebanggaan, bukan hanya sebagai perwakilan ratusan jurnalis yang bertanding, melainkan sebagai simbol prestasi tertinggi yang pernah diraih pers Nusa Tenggara Barat di kancah nasional.

Ia adalah Zulkarnain. Bagi kalangan wartawan di Bumi Gora, namanya bukanlah sosok asing. Pria kelahiran Lenangguar, 27 November 1987 ini adalah pemegang medali emas nomor lari 5.000 meter putra pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) XIV di Banjarmasin tahun 2024 lalu.

Kehadiran Zulkarnain di podium pembukaan Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) PWI NTB 2026 seolah menjadi pemantik semangat bagi sekitar 300 atlet dan official dari berbagai kabupaten/kota se-NTB yang memadati lapangan.

Upacara pembukaan berlangsung sangat meriah, dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Kepala Dinas Kominfotik NTB Dr. H. Ahsanul Khalik yang mewakili Gubernur NTB, Wakil Rektor II Unram Prof. Akmaludin, Asisten I Setda Kota Mataram H. Lalu Martawang, serta dipimpin langsung oleh Ketua PWI NTB Ahmad Ikliluddin.

Dalam sambutan pembukaan, Ahsanul Khalik menegaskan bahwa olahraga adalah solusi terbaik untuk merekatkan soliditas insan pers, melahirkan pikiran yang suci dari tubuh yang sehat. Pidato tersebut seakan menggambarkan separo perjalanan hidup Zulkarnain, seorang jurnalis yang menemukan harmoni hidup di atas lintasan lari.

​Perjalanan Zulkarnain sendiri di dunia jurnalistik telah membentang selama dua dekade, tepatnya sejak tahun 2006. Di tengah gempuran disrupsi media, ia tetap bertahan dan kini menakhodai medianya sendiri, intanmedia.com. Di luar kesibukan memburu berita dan mengelola ruang redaksi, Zulkarnain adalah seorang ayah dari dua anak tercinta, seorang putri yang kini duduk di kelas 4 SD dan putra bungsunya yang baru menginjak kelas 1 SD.

Dunia olahraga sebenarnya selalu mengalir di darahnya. Dulu, ia adalah pencinta sepak bola. Namun, tiga tahun lalu, sebuah titik balik membawanya jatuh cinta pada olahraga yang lebih menuntut ketahanan fisik dan mental, yakni lari jarak jauh.

“Saya mulai serius menekuni dunia lari dalam tiga tahun terakhir ini,” kisah Zulkarnain sembari menyunggingkan senyum hangat.

Guna mematangkan kemampuannya, ia bergabung dengan One Rush Club di Sumbawa, sebuah klub lari terbuka tempat berkumpulnya para pencinta lari. Di klub tersebut, ia ditempa langsung di bawah asuhan Suwandi, salah satu legenda atlet lari jarak jauh NTB yang sarat akan prestasi nasional. Di bawah bimbingan tangan dingin sang pelatih, bakat alam Zulkarnain bertransformasi menjadi disiplin yang menakutkan.

​Prestasi tidak pernah lahir dari ruang yang instan. Ketika pertama kali mencicipi atmosfer Porwanas di Malang pada tahun 2022, Zulkarnain memasang target ambisius untuk membawa pulang medali perak. Namun, ia harus puas berdiri di podium ketiga dengan raihan medali perunggu.

​”Hasil di Malang itu membuat saya bertekad kuat. Saya tahu saya bisa lebih baik,” kenangnya.

​Kegagalan itu menjadi bahan bakar untuk dua tahun masa persiapan yang melelahkan menuju Banjarmasin 2024. Kunci suksesnya sederhana namun berat untuk dijalani, yakni konsistensi dan disiplin ekstrem. Berlari di pagi buta sebelum memulai aktivitas jurnalistik menjadi menu wajib harian bagi Zulkarnain. Ia berlari enam hari dalam sepekan, dan hanya menyisakan hari Minggu untuk beristirahat bersama keluarga kecilnya.

​”Konsisten dan disiplin adalah segalanya. Berlari itu wajib setiap hari, liburnya hanya hari Minggu. Beruntung, selain rekan-rekan di PWI yang selalu mendukung, dorongan paling kuat justru mengalir dari rumah, dari istri dan anak-anak yang memahami mimpi saya,” tuturnya dengan mata berbinar.

​Pengorbanan itu terbayar lunas di Banjarmasin. Zulkarnain melesat melampaui lawan-lawannya, menyentuh garis finis pertama, dan mempersembahkan medali emas nomor 5.000 meter untuk Nusa Tenggara Barat.



Misi Mempertahankan Takhta di Lampung 2027

Kini, riuh rendah pembukaan Porwada PWI NTB 2026 di Mataram menjadi babak baru bagi petualangannya. Bagi Zulkarnain, ajang ini bukan sekadar formalitas, melainkan batu loncatan penting untuk mengukur sejauh mana kesiapan fisiknya sebelum misi besar berikutnya, mempertahankan takhta emas di Porwanas XV Lampung yang dijadwalkan pada Maret 2027 mendatang.

Mempertahankan gelar juara tentu jauh lebih sulit daripada merebutnya. Peta persaingan di Lampung diprediksi akan jauh lebih ketat, seiring dengan bermunculannya jurnalis-jurnalis pelari muda dari seluruh penjuru Nusantara. Namun, Zulkarnain menolak gembira berlebihan dan memilih fokus pada persiapan diri.

“Alhamdulillah, saya kembali diberikan kepercayaan untuk mewakili PWI NTB di Porwanas Lampung tahun depan. Tentu saya akan mencoba lebih baik lagi untuk bisa mempertahankan gelar, bahkan kalau bisa memperbaiki catatan waktu agar bisa kembali mengharumkan nama daerah dan organisasi,” ungkap Zulkarnain penuh optimisme usai finish pada urutan pertama pada Porwarda PWI NTB di Lapangan Atletik Universitas Mataram, Sabtu pagi (27/06/2026).

Demi target besar tersebut, ia berkomitmen untuk menggenjot porsi latihannya sekembalinya ke Sumbawa nanti.

“Insya Allah, setelah ini saya akan latihan lebih maksimal lagi dengan kembali fokus berlatih jelang Porwanas Lampung,” tambahnya.

Langkah kakinya yang tegap di atas lapangan Sport Center Unram seolah mengirimkan pesan sunyi namun tegas kepada lawan-lawannya di tingkat nasional “Sang Juara Bertahan belum lelah berlari”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here