GerbangIndonesia, Lombok Barat — Kemarau panjang yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Lombok Barat, mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian. Sejumlah lahan pertanian yang berada di wilayah Desa Tempos dan Kuripan kini menghadapi ancaman kekurangan air.

Sedikitnya 160 hektare lahan pertanian yang tersebar di dua lokasi menjadi perhatian Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat. Dari total luasan tersebut, sekitar 150 hektare berada di wilayah Desa Tempos, sementara 10 hektare lainnya berada di wilayah Kuripan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan musim tanam petani.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat, Muhammad Taufik, S.P., M.Ling, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk membantu petani yang terdampak kekeringan.

Menurutnya, Dinas Pertanian telah berkoordinasi dengan BPBD untuk mendapatkan bantuan pompa air. Selain itu, bantuan pompa irigasi juga diperoleh melalui BPTPH Provinsi NTB untuk digunakan di sejumlah wilayah yang mengalami dampak kekeringan.

“Kita sudah mengantisipasi kondisi ini dengan berkoordinasi bersama BPBD. Kita juga mendapatkan bantuan pompa air, kemudian dari BPTPH Provinsi juga mendapatkan pompa irigasi untuk wilayah-wilayah yang terdampak,” ujar Muhammad Taufik.

Selain persoalan kemarau, terganggunya distribusi air ke lahan pertanian juga dipengaruhi kondisi saluran irigasi. Setelah melakukan koordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS), ditemukan adanya sumbatan di sejumlah titik di kawasan Pesongoran yang menyebabkan aliran air menuju lahan pertanian tidak berjalan maksimal.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BWS. Informasinya ada beberapa titik yang mengalami sumbatan di wilayah Pesongoran sehingga aliran air menjadi terganggu,” jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pertanian Lombok Barat mengimbau para petani agar menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air. Petani untuk sementara disarankan memilih tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air.

Muhammad Taufik menyebut tanaman palawija seperti jagung dapat menjadi salah satu alternatif agar petani tetap bisa bercocok tanam tanpa terlalu berisiko mengalami gagal panen akibat keterbatasan air.

“Kami mengimbau petani untuk sementara menanam tanaman yang tidak terlalu banyak membutuhkan air, seperti palawija, jagung dan tanaman lainnya. Ini untuk mengurangi risiko gagal panen,” katanya.

Namun, menurutnya, persoalan kekeringan tidak cukup hanya ditangani dengan bantuan pompa air. Diperlukan pembangunan infrastruktur pengairan yang lebih permanen dan mampu menjangkau lahan pertanian dalam skala luas.

Karena itu, Dinas Pertanian berharap pemerintah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, dapat membangun sistem irigasi perpompaan maupun embung yang memiliki kapasitas signifikan.

Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meng-cover ratusan hektare lahan sekaligus menyediakan cadangan air yang memadai bagi petani ketika musim kemarau kembali terjadi.

“Kami berharap ke depan ada pembangunan irigasi perpompaan atau embung yang signifikan, yang bisa meng-cover ratusan hektare lahan dan menampung debit air yang cukup memadai bagi para petani ketika musim kemarau datang kembali,” pungkas Muhammad Taufik.

Dengan ancaman kemarau yang berpotensi terus berlangsung, ketersediaan sumber air dan infrastruktur irigasi menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah diharapkan tidak hanya melakukan penanganan saat kekeringan terjadi, tetapi juga menyiapkan sistem pengairan berkelanjutan untuk melindungi lahan pertanian dan menjaga produktivitas petani Lombok Barat. (dil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here