
Gerbangindonesia, Lombok Utara – Keberadaan Kampung Cokelat Senara di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, tidak hanya memperkuat posisi Kabupaten Lombok Utara (KLU) sebagai sentra produksi kakao, tetapi juga menjadi motor penggerak baru bagi potensi pariwisata berbasis perkebunan (agrowisata) di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara memberikan piagam penghargaan kepada sejumlah petani kakao di Kampung Cokelat Senara atas inovasi dan kontribusi mereka. Langkah apresiasi ini diambil mengingat KLU memiliki potensi lahan kakao yang sangat luas, mencapai sekitar 5.000 hektare, yang sangat mendukung pengembangan produksi lokal hingga peluang ekspor pasar global.
Menanggapi potensi besar tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara, Dende Dewi Tresni, menegaskan bahwa keberadaan Kampung Cokelat Senara memiliki peran yang sangat strategis dalam memperkaya daya tarik pariwisata daerah melalui konsep agrowisata.
Menurut Dende Dewi Tresni, wisatawan saat ini tidak hanya mencari keindahan alam pantai atau gunung, tetapi juga pengalaman edukatif yang otentik. Kampung Cokelat Senara menawarkan paket pengalaman lengkap, mulai dari mengenal budidaya tanaman kakao, proses panen, pengolahan biji cokelat, hingga mencicipi olahan cokelat khas Lombok Utara secara langsung di tempatnya.
”Kampung Cokelat Senara adalah wujud nyata integrasi sektor pertanian dan pariwisata. Sektor agrowisata ini memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan,” ujar Dende, Senin (12/10/2026).
Ia menambahkan bahwa Dinas Pariwisata KLU terus berkomitmen mendampingi serta mempromosikan Kampung Cokelat Senara agar menjadi salah satu destinasi wajib berkunjung (must-visit destination) bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlibur ke Lombok Utara.
Belum lama ini, Wakil Bupati KLU, Kusmalahadi Syamsuri, menyampaikan optimismenya bahwa kawasan Gangga berpotensi menjadi pusat pengembangan kakao NTB secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Ini menjadi potensi yang sangat besar buat Kabupaten, khususnya buat petani. Dengan konsentrasi pengembangan kakao, KLU berpotensi menjadi sentra kakao NTB, meningkatkan posisi strategis daerah ini dalam produksi kakao,” ujar Kusmalahadi.
Ia juga mengapresiasi keaktifan para petani lokal dalam melakukan riset secara mandiri untuk menghasilkan varietas-varietas unggul baru. Saat ini, pihak pemerintah sedang mengupayakan sertifikasi varietas lokal guna memberikan perlindungan hukum sekaligus meningkatkan nilai jual dan keunggulan bisnisnya.(iko)




