Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS) Lombok Barat, Dr. Muazzar Habibi. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lombok Barat – Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum krusial bagi seluruh elemen pondok pesantren untuk kembali memperkuat komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus melakukan evaluasi dan introspeksi diri.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pimpinan Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS) Lombok Barat, Dr. Muazzar Habibi.

Menurut Muazzar, Hari Santri bukan sekadar ajang seremonial mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan, melainkan pengingat peran sejarah pesantren sebagai benteng utama moral dan kesusilaan bangsa.

Menanggapi dinamika yang sempat menerpa lingkungan pesantren—khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB)—Muazzar mengajak para pengasuh pesantren untuk bersikap terbuka. Menurutnya, potensi timbulnya masalah merupakan hal yang wajar dalam sebuah lembaga yang dihuni ratusan hingga ribuan orang.

Ia pun memberikan apresiasi kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), hingga Aparat Penegak Hukum (APH) yang dinilai berani mengungkap oknum maupun persoalan di internal lembaga pendidikan keagamaan.

“Persoalan yang ada jangan sampai menurunkan citra pesantren, tetapi harus memperkuat jati diri untuk kembali kepada fitrahnya. Jika ada masalah, kita tidak boleh mendiamkannya bertahun-tahun. Harus ada yang berani bersuara. Kami mengapresiasi LSM, LPA, dan APH yang berani mengungkap hal ini demi kebaikan bersama,” tegas Muazzar.

Ia menambahkan, sikap terbuka sangat penting agar tindakan oknum tidak merusak reputasi pesantren secara umum.

Ubah Konsep Acara dan Libatkan UMKM

Untuk memberikan warna baru pada peringatan Hari Santri tahun ini, LHIBS menggeser konsep acara dari seremonial kaku menjadi kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Panitia mengundang para pelaku UMKM lokal di kawasan Gunungsari untuk berjualan dan meramaikan acara bersama para santri dan wali santri.

“Konsepnya kita ubah. Jangan sampai acara Hari Santri hanya jadi ajang seremonial saat pejabat datang, sementara santri dan wali santri hanya menjadi penonton. Kami hadirkan UMKM lokal agar pesantren lebih dekat dengan masyarakat. Pesantren ini milik seluruh masyarakat,” jelasnya.

Terapkan Kedisiplinan Humanis dan Mendidik

Di samping itu, LHIBS juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari intimidasi. Pendekatan disiplin yang diterapkan berfokus pada metode yang humanis dan edukatif.

Muazzar menjelaskan, jika santri melakukan pelanggaran, bentuk tindakan yang diberikan diarahkan pada hal-hal yang membangun karakter melalui kombinasi hukuman fisik terukur dan tugas kognitif.

“Jika ada kesalahan, tetap ada tindakan disiplin, tetapi harus yang mendidik. Ada keseimbangan antara aktivitas fisik—seperti piket membersihkan sampah atau push-up—dengan tugas kognitif, misalnya menulis Surat Yasin atau menambah hafalan Juz Amma. Tanpa kekerasan, mereka secara tidak langsung justru menambah hafalan,” terangnya.

Menutup pernyataannya, Pimpinan LHIBS menyampaikan dua pesan penting dalam momentum Hari Santri:

  1. Untuk Para Santri (Generasi Alpha): Muazzar mengimbau para santri yang melek teknologi agar bijak menyikapi media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video singkat mengenai kehidupan pesantren.
  2. Untuk Para Masyayikh dan Pengasuh Pesantren: Ia mengingatkan agar setiap ujian yang datang dijadikan bahan evaluasi internal ketimbang ajang saling menyalahkan.

“Jadikan ujian sebagai momentum untuk perbaikan internal. Rasulullah SAW pun mendapatkan ujian berat saat pertama kali menyebarkan Islam. Ujian adalah cara agar kita terus memperbaiki diri menuju kebaikan,” pungkas Muazzar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here