GerbangIndonesia, Loteng – Bupati Lombok Tengah, HL Pathul Bahri blak-blakan mengungkap penyebab angka ‎kemiskinan yang masih tinggi di Lombok Tengah.‎

Dalam acara rapat koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD), Pathul mengatakan jika ‎kemiskinan di Lombok Tengah sebenarnya sudah menurun drastis dari tahun ke tahun. Hanya saja, ada faktor lain yang ‎menjadi penyebab angka itu tampak turun sangat lambat.‎

Faktor dimaksud adalah belum adanya kesadaran dari masyarakat untuk menyatakan diri tidak miskin lagi ketika ‎dilakukan survey oleh lembaga. Dalam hal ini saat dilakukan survey oleh Badan Pusat Statistik atau BPS.‎

Dimisalkan, salah satu indikator kemiskinan adalah makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat apakah sudah ‎memenuhi standar kesehatan atau tidak, maka sejumlah masyarakat yang disurvey rata-rata akan menjawab dengan ‎jawaban yang menyatakan bahwa mereka tidak mengkonsumsi makanan sehat itu.‎

Parahnya, lanjut dia, masyarakat yang menjawab seperti itu terdorong oleh pola pikir yang salah mengenai survey ini. ‎Banyak masyarakat menyangka bahwa jika mereka dikatakan miskin, maka seketika juga bantuan pemerintah melalui ‎bantuan sosial dan bantuan lainnya akan mereka terima.‎

“Ini yang terjadi sebenarnya, banyak masyarakat menyangka kalau mereka dikatagorikan miskin dengan indikator itu ‎maka akan langsung mendapat bantuan, sehingga kalau masalah bantuan mereka dapatkan tidak ada yang mau kaya, ‎semuanya mau miskin karena mereka mengira akan mendapat bantuan pemerintah,” ungkap Pathul dalam ‎sambutannya.‎

Padahal, sambung dia, jika BPS melakukan survey lebih jauh dengan tidak hanya melihat indikator kemiskinan yang ‎tertuang, kemungkinan besar angka kemiskinan itu bisa jauh berkurang.‎

Dimisalkan, seseorang yang rumahnya tampak tidak layak huni dikatakan miskin jika dilihat dari rumah yang dihuninya, ‎tetapi tidak menutup kemungkinan orang bersangkutan memiliki sawah dan ladang yang cukup luas untuk digarap dan ‎hasilnya sebagai bekal hidupnya.‎

“Ada juga yang rumahnya sudah cukup bagus tapi tidak punya penghasilan tetap. Jadi ini yang juga menjadi perhatian ‎kami dan akan kita benahi bersama,” sambung dia.‎

Jika berbicara angka, sambungnya, Lombok Tengah sebenarnya sudah cukup baik dalam masalah pengurangan angka ‎kemiskinan. Bahkan dari 800 ribu penduduk Lombok Tengah, pada tahun 2019 lalu angka kemiskinan bisa ditekan ‎sampai 1,44 persen. Sementara untuk tahun 2020 penurunan tidak begitu signifikan karena faktor bencana dan lainnya ‎sehingga penurunan angka kemiskinan hanya mencapai angka 0,4 persen saja.‎

“Tetapi kalau dilihat dari jumlah penduduk kita dibanding kabupaten/kota lain,angka itu cukup besar,” bangga Pathul.‎

Lebih dari masalah kemiskinan, saat ini Pemkab Loteng masih memikirkan solusi untuk 15 ribu rumah tangga yang ‎belum bisa mengaksses air bersih dan 11 ribu Kepala rumah tangga yang masih sebagai pekerja kasar seperti kuli dan ‎pemulung.‎

“Jadi untuk menangani masalah ini, salah satu rekomendasi kami kepada TKPKD dan kita semua adalah perbaikan ‎kualitas dan kuantitas kerja kita serta sinergitas dengan semua pihak dari pusat hingga tingkat desa,” petuah Pathul.‎

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Loteng, H.Syamsudin membeberkan bahwa angka kemiskinan untuk ‎Kabupaten Lombok Tengah saat ini berada pada peringkat ke-5 dari semua kabupaten/kota se NTB.‎

Peringkat itu dari hasil survey yang menelurkan hasil bahwa angka kemiskinan di Lombok Tengah tahun 2020 berada ‎pada angka 13,44 persen atau dengan jumlah 128 ribu rumah tangga.‎

“Penurunannya cukup baik jika dibandingkan di tahun 2015 yang masih berkisar pada angka 16,25 persen,” pujinya.‎

Sementara itu, Ketua Pokja TKPKD Loteng, Saiful Muslim membeberkan bahwa dana yang digelontorkan untuk ‎penanganan kemiskinan di Lombok Tengah sebesar Rp. 107 Miliar. Angka itu untuk sementara masih belum aman ‎karena menunggu keputusan tentang refocusing anggaran.‎

“Untuk percepatan penanganan kemiskinan, kita masih harap-harap cemas menganai refocusing anggaran,” ‎ungkapnya.‎

Acara rakor ini dirangkaikan dengan serah terima jabatan antara Ketua TKPKD lama yaitu HL Pathul Bahri kepada Wakil ‎Bupati Lombok Tengah, HM Nursiah yang menurut regulasi harus mengemban amanah itu.‎

“Saya siap menerima amanah ini dan mari kita bersinergi bersama,” kata Nursiah saat diberi kesempatan ‎menyampaikan sambutannya oleh Bupati Loteng. (gi05)‎

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here