GerbangIndonesia, Lotim – Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Dikbud) Lombok Timur tahun ini bakal membentuk Komite Permainan dan Olahraga Tradisional (KEPOTI). Pembentukan KEPOTI ini guna membangkitkan kembali kebudayan di Lotim yang tengah tergerus zaman.
Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Lotim, Rusman mengatakan, KEPOTI nantinya dijadikan sebagai wadah masyarakat, khusunya pemuda untuk menghidupkan kembali kebudayaan yang ada di Lotim.
“KEPOTI ini semacam KONI. Setelah adanya KEPOTI ini kita akan membuat pekan kebudayan kabupaten, saat ini pekan kebudayaan hanya ada di tingkat provinsi saja,” ujar Rusaman saat ditemui di ruangannya, Kamis (25/3).
Kata dia, dengan adanya pekan kebudayaan dan kompensasi yang diberikan, dirinya menyakini masyarakat dan para siswa akan antusis mengikutinya. Sehingga kebudayaan-kebudayaan yang hilang diharapkan kembali eksis.
Lanjutnya, pihaknya juga akan mendorong setiap UPT Dikbud Kecamatan untuk memasukkan kebudayaan Lotim baik permainan maupun olahraga tradisional menjadi ekstrakurikuler di sekolah. Mulai jenjang SD hingga SMP.
“Jadi para siswa nantinya tidak hanya sibuk bermain game online, tapi mereka akan kembali bermain permainan tradisional. Bukan kita tidak mengikuti perkembangan zaman, hanya saja jangan sampai kebudayaan kita tergerus dan terlupakan. Dan itu nantinya akan kita lombakan,” janjinya.
Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini pemerintah telah memberikan perhatian terhadap kebudayaan dan kesenian yang ada di Lotim dengan memberikan bantuan dana kepada lembaga-lembaga kesenian maupun kebudayaan yang ada.
Kemudian, selama pandemi ini pemerintah juga telah memberikan dana sebesar Rp 220 juta untuk 12 lembaga kebudayaan dan kesenian di Lotim. Dana tersebut untuk pengembangan kebudayaan.
“Bisa untuk penambahan alat, perbaikan dan lainnya. Itu nantinya akan diberikan secara bergantian,” katanya.
Dirinya berharap kepada orang tua, untuk bisa memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada anak-anak untuk lebih mengenal budaya sendiri agar tidak tergerus dan hilang di tengah perkembangan teknologi saat ini.
“Kita harap orang tua dan para tokoh adat di desa bisa berperan aktif dalam membangkitkan kembali kebudayaan ini. Karena mereka yang lebih dekat dengan anak-anak agar mereka bisa mengenal kebudayaan, kesenian, permainan tradisional sendiri,” tutupnya. (*)







