Salah seorang petani saat memetik sisa tomatnya yang masih tersisa. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Cuaca buruk yang melanda wilayah Lombok Timur beberapa pekan terakhir mengakibatkan sejumlah tanaman dan buah tomat petani di Lombok Timur rusak. Akibatnya, banyak petani merugi jutaan rupiah.

Baca Juga: Isu Penculikan di Narmada Ternyata Hoaks, Polisi Sebut Penyebarnya Harus Ditangkap

Salah seorang petani tomat asal Sekarteja, Nurhidayati menyampaikan, akibat hujan yang yang terus menerus ini mengakibatkan buat tomat menjadi busuk karena setiap hari diguyur hujan lebat.

“Cuaca saat ini tidak bisa kita tebak, meski pagi panas tapi nanti siang hujan sampai malam. Ini salah satu faktor penyebab tomat kami bayak yang rusak,” ungkapnya saat ditemui di sawahnya, Senin (27/02).

Selain cuaca, rusaknya tangan tomat petani juga dikarenakan banyaknya hama yang menyerang. Terlebih pada musim tanam sekarang ini cuaca yang tidak mendukung untuk melakukan penyemprotan.

Diakuinya pula, pada musim tanam ini, hama di tanaman tomat tidak bisa dibasmi walaupun sudah disemprot menggunakan pestisida berkali-kali. Sebab begitu disemprot lahan sawah langsung diguyur hujan.

“Pagi disemprot nanti siang hujan jadi racun tidak bisa bereaksi untuk membasmi hama. Hama ini juga cepat menyebar ketika musim hujan,” ungkapnya.

Selama musim tanam ini, diakuinya hasil panen sangat menurun drastis dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya. Dimana pada musim tanam saat ini, hanya bisa panen sampai tiga kali saja.

“Padahal biasanya dalam sekali musim tanam petani bisa panen 7 sampai 8 kali,” tuturnya.

Selain itu pada awal panen harga tomat di tingkat petani anjlok. Dimana satu keranjang dijual seharga Rp 40 ribu dengan berat sekitar 40 kilogram. Sehingga kondisi ini mengakibatkan para petani merugi sampai jutaan rupiah.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Kalau kita hitung perkilo, berati harganya Rp 1.000 perkilo. Jangankan untung, modal pun tidak bisa balik,” sesalnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here