Wisatawan saat memadati kawasan Gili Trawangan yang tengah ditata Dispar. FOTO ANGGER RICO/GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lombok Utara – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Lombok Utara melakukan penataan di kawasan wisata Gili Trawangan. Di tahun ini bahkan dialokasikan anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai kurang lebih Rp 8 miliar. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Destinasi Wisata Diapar Lombok Utara Hepi Yuliati, Rabu (30/8).

Baca Juga: Beruntungnya! Bocah SD Dapat Undian Rumah, Event Jalan Sehat HUT PTAM Giri Menang ke-43

Menurutnya, progres pembangunan sudah mulai dikerjakan tercatat ada tiga jenis pekerjaan yang digarap oleh tiga pihak ketiga di antaranya, pembangunan talud, toilet umum, serta rest area di pulau wisata dunia tersebut. Khusus untuk talud sendiri dirinya menyebut ini untuk mitigasi kebencanaan lantaran di pulau tersebut terjadi abrasi yang parah sehingga adanya talut itu untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan.

“Kontraknya sampai 130 hari kerja artinya Bulan November atau Oktober pekerjaan ini sudah selesai,” ungkapnya.

Dijelaskan, dari total anggaran sebesar Rp 7,2 miliar dialokasikan pada pembangunan talud, sementara kurang lebih Rp 800 juta untuk landscape atau rest area dan sebesar Rp 280 juta untuk pembangunan toilet. Dalam pelaksanaanya, pihaknya juga mengandeng Kejari Mataram serta APIP Inspektorat Lombok Utara untuk pengawasan. Dirinya mengaku, pekerjaan berjalan lancar kendati didapati persoalan yang lumrah ditemui di pulau.

“Tetap kami libatkan tim pengawasan. Talut itu panjangnya 1 kilometer, kendati ada banyak perubahan kemungkinan berkurang panjangnya tapi volume tetap,” jelasnya.

Persoalan dimaksud Hepi, yakni adanya keluhan dari hotel di sekitar lokasi tersebut. Pemilik disebut mengkomplain dengan aktivitas pembangunan dengan alasan tamu merasa terganggu. Hanya saja, hal seperti itu disebut biasa karena di pulau padat dengan wisman yang banyak maka jika tidak bising tidak akan bisa terbangun fasilitas tersebut. Pihaknya juga intens melakukan koordinasi komunikasi untuk menyelesaikan bentuk komplain tersebut.

“Beberapa minggu ini kami terus turun ke Gili untuk memantau situasi, kita musyawarah dengan warga termasuk pemilik hotel. Hal begini biasa terjadi, tapi pasti selesai namanya juga kita membangun,” ucapnya.

Terhadap dua gili lainnya, Hepi mengatakan bahwa akan dilakukan penataan juga namun secara bertahap. Pasalnya, usulan DAK yang idealnya juga meliputi Gili Meno dan Air serta termasuk destinasi di darat seperti Senaru, Pantai Bintan dan Impos belum bisa disetujui langsung oleh pusat karena terkendala anggaran. Meskipun masterplan serta DED sudah disipakan dinas, maka tahun depan akan dilihat apakan usulan itu bisa gol atau tidak.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Disebut Bakal Punya Kekuatan Besar Jika Didampingi Sosok Ini di Pilpres 2024

“Tahun depan kita usulakan untuk di Gili Air, baru di tahun 2025 Gili Meno. Sebetulnya Senaru juga masuk, cuma kan anggaran terbatas jadi pengerjaanya dilakukan bertahap,” pungkasnya.(iko)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here