Ibu Sahre warga Dusun Bimbi, Desa Rensing Raya, Kecamatan Sakra Barat, Lotim. FOTO LALU HABIB FADLI/GERBANG INDONESIA

Ibu Sahre mengaku cukup kaget. Lututnya yang seringkali kumat, tiba-tiba tidak pernah kambuh lagi. Yaps, itulah kisah nyata ibu rumah tangga, asal Dusun Bimbi, Desa Rensing Raya, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lotim itu.

LALU HABIB FADLI, LOMBOK TIMUR

SEMENJAK serbuan vaksinasi Covid-19 digencarkan, banyak isu berseliweran bahwa vaksin bisa membuat orang lumpuh, bahkan mengakibatkan kehilangan nyawa. Tidak sedikit pula masyarakat menolak divaksin, lantaran dampak negatifnya dinilai lebih banyak dibanding dampak positifnya.

Kala itu, salah satu isu dan berita yang beredar di tengah masyarakat ialah, vaksin adalah obat yang akan membunuh masyarakat bahkan melumpuhkan manusia. Berita itu semakin menakutkan dan membuat pemerintah semakin sulit untuk memberikan vaksin kepada masyarakat.

Baca Juga: Disalahkan, Pawang Hujan Sirkuit Mandalika Lapor Polisi

Seperti yang diungkapkan Sahre. Warga Dusun Bimbi Desa Rensing Raya Kecamatan Sakra Barat ini, merupakan salah satu dari ribuan orang di Indonesia yang termakan oleh cerita yang tidak jelas kebenarannya. Bagi yang percaya, mereka akan keras menolak untuk divaksin, dan dihantui oleh kedatangan petugas vaksinansi.

Saat ditemui di rumahnya, ibu dari lima anak itu menceritakan, dirinya sempat tidak ingin divaksin karena merasa takut dan dihantui dengan cerita-cerita yang beredar tentang bahaya vaksin. Seakan-akan cerita itu, ia saksikan sendiri bagaimana vaksin itu merenggut nyawa orang yang sudah divaksin langsung meninggal satu jam setelahnya.

“Macem pokoknya cerita yang saya dapatkan dari orang-orang. Ada yang mengatakan setelah vaksin dia langsung meninggal, ada yang lumpuh total. Sehingga cerita itu membuat saya takut karena semua orang harus divaksin,” ulasnya menggunakan bahasa Sasak saat ditemui di rumahnya, Rabu (24/11).

Ia juga menceritakan, saat itu dirinya juga sempat menerima cerita, bahwa vaksinansi tidak akan sampai ke masyarakat. Lantaran vaksinasi hanya menyasar Nakes, pejabat dan orang-orang penting lainnya. Keberadaan cerita itu lantas membuatnya sedikit lega karena dirinya tidak jadi divaksin.

“Seneng sih waktu itu, karena ada cerita vaksin sudah habis jadi tidak bisa sampai kekita kita yang sudah tua ini dan saya tidak memikirkannya vaksinasi lagi,” ungkapnya.

Sahre yang kesehariannya menjadi buruh lepas itu mengaku, sangat mudah percaya dengan cerita yang ia dengar dari orang-orang. Meski pun cerita yang didapatkan itu adalah cerita yang kembali diceritakan kepada dirinya yang ia sendiri tidak tahu asal usul dan kebenarannya.

Namun selang beberapa bulan kemudian, dia kembali menerima kabar bahwa tim vaksin sudah sampai di kecamatan. Bahkan pihak kepolisin yang akan turun langsung menjemput orang-orang yang tidak mau divaksin dan dibawa menggunakan mobil polisi. Mendengar cerita itu membuat dirinya semakin takut.

“Saya kan sering sakit lutut. Nyeri. Makanya saya tidak pernah mau divaksin, walaupun disuruh datang kekantor camat, puskesmas saya tidak pernah mau datang. Jangan-jangan nanti setalah saya vaksin saya jadi lumpuh atau langsung mati,” katanya.

Di satu sisi, dirinya ingin sekali untuk vaksin agar dirinya bisa sehat. Ibu dari lima orang anak itu juga sempat berpikir jika memang vaksin ini membunuh mungkin sudah banyak masyarakat di Lotim ini yang sudah meninggal dunia karena divaksin. sehingga pemikiran itu yang menguatkan dirinya untuk melakukan vaksinasi.

Setalah sekian lama menghindar dari vaksinasi, akhirnya dirinya memberanikan diri dan mengatakan tekadnya untuk mendatangi gerai vaksin yang saat itu sedang berlangsung di kantor desa. Meski rasa takut dan cemas itu tidak mampu ia sembunyikan.

Baca Juga: Jajal Sirkuit Mandalika, Presiden: Banyak Tikungan Tajam, Sulit untuk Saya!

“Waktu mau vaksin itu saya sudah pasrah, kalau saya mati ya sudah sampai disini umur saya. Kalau saya mati, saya juga tidak sendiri. Kan banyak juga yang ikut mati,” ucapnya mengingat waktu itu.

Setelah diceritakan riwayat penyakit yang diderita kepada petugas vaksinasi, akhirnya dirinya diperbolehkan untuk divaksinasi. Namun, saat dilakukan pengecekan tensi, tiba-tiba tensi naik ke angka 140. Hal itu diakuinya karena dirinya merasa tegang dan masih takut. Kata dia, biasa tensinya sekitar 100-110 sehingga peroses vaksinasi sempat ditunda beberapa menit.

“Disuruh istirahat dulu sebentar. Pas normal ke 110, saya langsung divaksin,” ujarnya.

Pasca vaksinansi itu, dirinya terus mengamati seluruh badannya sembari pasrah akan keadaan yang akan menimpa dirinya. Di satu sisi dirinya juga ingin membuktikan cerita-cerita yang selama ini ia dengar. Namun, sampai tiga hari pasca vaksinansi itu tidak ada yang terjadi pada dirinya.

“Badan saya tidak pegel lagi. Saya juga tidak ngantuk, apalagi lumpuh seperti cerita-cerita yang dulu saya dengar itu,” terangnya.

Ia melanjutkan, selang beberapa bulan setalah dilakukan vaksinasi, dirinya kembali merenungi seluruh badannya sembari mengamati penyakit lututnya yang tidak pernah lagi kembuh setelah vaksinasi.

“Justru tidak pernah kambuh lagi. Dulu kadang seminggu sekali kambuh. Kalau saya makan kangkung, pasti kambuh lagi penyakit saya. Tapi sekarang Alhamdulillah belum pernah datang lagi. Mudah-mudahan tidak lagi,” doanya.

Sejak itu, dirinya juga ingin melakukan vaksinasi dan tidak takut lagi. Bahkan tidak percaya lagi akan cerita-cerita yang beredar.

“Kemarin jadwal saya vaksin kedua tapi waktu itu saya ada kerjaan jadi saya tidak bisa ikut kedua. Nanti saya akan vaksinasi lagi kalau ada yang kedua,” tutupnya. (*)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here