
Gerbangindonesia, Lombok Utara – Dinas Pariwisata (Dispar) melalui Bidang Pengembangan Sumberdaya Manusia (PSDM) menggelar pelatihan kepada 40 orang. Pelatihan yang berlangsung di Hotel Mina Tanjung, Senin (23/5) ini diikuti oleh peserta yang merupakan unsur Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Bumdes, serta pengelola destinasi wisata. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang (Kabid) PSDM Dispar Lombok Utara Fahman Toriki.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan aspek penting kaitan pengembangan sumberdaya di tingkat desa. Sebab di desa banyak potensi wisata yang tersedia namun belum dapat dikelola secara maksimal. Pelatihan tata kelola bisnis dan pemasaran destinasi ini memiliki tujuan bagaimana antar unsure yang terlibat di desa bisa bersinergi, membagi peran, sehingga mampu berjalan selaras dalam mengembangkan destinasi wisata yang akan disuguhkan kepada para wisatawan.
“Kita memberikan pemahaman, memotivasi, karena tiap desa ini punya daya tarik wisata berbeda-beda. Kita harap dari sini ada sinergi dan kesepakatan yang terbentuk,” ungkapnya.
Dijelaskan, pelatihan yang diselenggarakan selama 3 hari terhitung hari ini itu, anggarannya bersumber melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Pihaknya memberikan pembekalan materi kepada para peserta selama 2 hari dan di hari terakhir mereka akan terjun ke lapangan yaitu ke Destinasi Wisata Nipah guna meninjau pengembangan pengelolaan konservasi di sana. Pokdarwis dari Desa Malaka hingga ujung Bayan dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
“Pengelola destinasi ini sekarang memiliki peran pengembangan desa wisata. Peran mereka ini penting, makanya harus ada pembagian supaya tidak tumpang tindih, bagaimana bermitra semua harus jalan bareng tentu juga dengan pihak desa,” jelasnya.
Diketahui di Lombok Utara saat ini tercatat ada sekitar 70 Pokdarwis. Jumlah tersebut tentu sangat jomplang jika dibanding keberadaan desa yaitu sebanyak 43 desa. Hal ini disebutnya rentan rancu akan adanya pengambilan peran serta konsep wisata yang hendak dijadikan paket wisata. Maka dari itu, pihaknya berharap supaya idealnya ada satu pokdarwis di masing-masing desa sehingga pengelolaan destinasi bisa berjalan maksimal. Dalam kesempatan ini ia pun juga telah menyampaikan kepada para peserta yang hadir.
“Tantangannya di situ, mereka harus punya konsep dan tata pengelolaan yang jelas dulu baru kita bisa bantu jadi tidak ujug-ujug. Selama ini keberpihakan kita melalui program peningkatan kapasitas sdm ini salah satu bentuk dukungan kita. Soal Infrastrukturnya ada di bidang destinasi, dan pemasaran ada di bidang promosi. Kalau semua aspek ini jalan kita akan bantu,” katanya.
Dirinya membandingkan desa wisata di KLU dengan Desa Wisata Kembang Kuning yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Bagaimana chemistry antara Pokdarwis, diperkuat dengan legalitas BUMDes-nya, serta dukungan dari Kepala Desa membuat desa wisata tersebut cukup ramai dikunjungi para wisatawan. Hal ini juga tidak lepas dari pembagian peran serta komitmen kesatuan yang berimplikasi pada kesejahteraan ekonomi melalui sektor pariwisata lokal.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
“Kita harus contoh desa wisata di sana, karena mereka perannya jelas. Padahal yang ditonjolkan hanya aktivitas masyarakat sehari-hari seperti biasa, namun menarik. Paling tidak kita bisa belajar dari itu,” pungkasnya. (iko)
Editor: Lalu Habib Fadli






