GerbangIndonesia, Lotim – Adanya wabah Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang menjangkit sejumlah sapi ternak di Lombok Timur berimbas pada penutupan pasar hewan. Penutupan pasar hewan ini pun berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor peternakan saat ini merosot tajam.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun

Kepala Pasar Hewan Masbagik, Ismail Marzuki menyampaikan, merebaknya wabah PMK ini sangat berdampak pada perekonomian masyarakat khusunya para peternak. Sebab, semenjak adanya wabah itu para peternak banyak yang menjual ternaknya dengan harga yang sangat murah.

“Wabah ini sangat berbahya sekali dan sangat cepat sekali penularannya, jadi mau tidak mau pasar hewan terpaksa kami tutup dan wabah ini juga berdampak pada perekonomian,” ucap saat ditemui di Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lotim, Senin (8/8).

Kata dia, sampai saat ini pasar hewan Masbagik masih tutup, sejak ditutup pada tiga bulan lalu. Akibat penutupan itu berdampak pada PAD yang diperkirakan mengalami kerugian mencapi ratusan juta rupiah.

Diakui Ismail, potensi retrebusi yang didapatkan dari pasar hewan sangat besar. Dimana perharinya bisa mencapai Rp 10 juta. Namun sejak ditutupnya pasar itu retribusi yang masuk tidak ada sama sekali karena tidak adanya aktivitas di pasar hewan.

”Pasar hewan Masbagik ini beroperasi tiga kali dalam seminggu. Tarif retribusinya yakni Rp 10 ribu untuk sapi dan Rp 5 ribu untuk kambing,’’ sebutnya.

Diakuinya pula, sejak Pandemi Covid-19 PAD di pasar hewan mengalami penurunan. Sebab saat itu pasar hewan sempat ditutup dan akhirnya dibuka kemudian ditutup lagi setelah adanya wabah PMK.

Adapun untuk pembukaan pasar hewan dirinya belum mengetahui secra pasti kapan akan dibuka lagi. Sebab kata dia, pembukaan pasar hewan harus melalui rekomendasi dari Satgas PMK dengan mengacu pada jumlah sasaran vaksinasi dengan tetap melihat perkembangan PMK di Lotim.

Sementara itu, salah seorang peternak Sahroni asal Desa Lendang Nangka Utara Kecamatan Masbagik mengaku dirinya merasa kewalahan memasarkan ternak miliknya setelah pasar hewan Masbagik ditutup.

“Memang ada aja sih yang datang menawar sapi saya, tapi saya lebih suka jual di pasar hewan ketimbang di rumah,” ujarnya.

Ia menilai sejak merebaknya PMK di Lotim, harga sapi yang dijual di rumah atau di kandang sendiri dinilai sangat murah ketimbang dengan harga di pasar hewan. Sehingga hal itu yang membuatnya tidak mau menjual sapi miliknya di rumah.

“Sudah berapa kali pembeli datang menawar untuk beli sapi saya, tapi saya tetap tidak mau jual. Paling tinggi harga yang ditawarkan itu Rp 10-14 juta untuk sapi saya yang besar itu. Kalau di jual di pasar ini bisa lebih mahal,” pungkasnya.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun

Dirinya berharap pemerintah segera membuka pasar hewan secepatnya agar para peternak tidak merugi karena harga jual yang begitu murah. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here