GerbangIndonesia, Jakarta – Kebijakan Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) menuai pro kontra dari masyarakat. Kendati kenaikan harga sudah berlangsung, namun pemerintah diharap bisa menambah stimulus bagi masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo, Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi MA.
Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun
“Bantuan multi program harus mampu mengkompensasi dampak yang muncul. Kita harus kawal bersama,” ungkap TGB kepada GerbangIndonesia di Jakarta, Sabtu malam (3/9/2022).
Kenaikan harga BBM bersubsidi sendiri lantaran lonjakan harga minyak Dunia. Harga Pertalite misalnya, mencapai Rp 13.150 perliter. Sedangkan harga jual masih Rp 7.650 perliter. Tingginya subsidi membuat pemerintah harus menaikkan harga harga BBM.
Harga BBM bersubsidi mulai Sabtu sore, 3 September 2022 sebagai berikut:
Harga Pertalite dari Rp 7.650 perliter menjadi Rp 10.000 perliter
Harga Solar subsidi dari Rp 5.150 perliter menjadi Rp 6.800 perliter
Harga Pertamax dari Rp 12.500 perliter menjadi Rp 14.500 perliter
Di satu sisi, tingkat ekonomi masyarakat saat ini baru mulai merangkak pascapandemi Covid-19. Sehingga dikhawatirkan, kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan memicu melemahnya perekonomian masyarakat.
“Perindo meminta Pemerintah untuk memastikan agar bantalan ekonomi sosial cukup untuk semua kelompok masyarakat yang terdampak,” pinta mantan Gubernur NTB dua periode itu.
Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Indonesia itu berpendapat, kenaikan harga BBM bersubsidi akan berimbas menurunkan daya beli masyarakat. Pasalnya, kenaikan harga BBM bersubsidi bakal diikuti oleh lonjakan harga-harga kebutuhan pokok. Termasuk biaya jasa yang dibayarkan oleh masyarakat.
“Jangan sampai program-program untuk mengkompensasi kenaikan BBM ini tidak cukup. Akhirnya masyarakat sengsara,” tandasnya.
Kenaikan harga BBM bersubsidi yang diumumkan pemerintah secara mendadak Sabtu (3/9/2022), membuat masyarakat terkejut. Mereka bahkan kecewa terkait kebijakan menaikkan harga BBM tersebut.
Marinah, 43 tahun salah satunya. Nelayan asal Labuapi NTB itu mengaku, sangat keberatan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar.
“Kalau orang yang memiliki mobil menengah ke atas ya wajar-wajar aja. Kalau buat nelayan seperti kami ya sangat perihatin,” katanya.
Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun
Marinah berharap, Presiden Joko Widodo memberikan kebijakan lain yang menguntungkan buat dia dan masyarakat berpenghasilan kecil lainnya. (abi/*)
Editor: Lalu Habib Fadli







