
GerbangIndonesia, Lotim – Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Laskar Banteng Hitam yang terdiri dari sejumlah Organisasi Kemahasiswaan yakni HIMMAH NWDI, KAMMI dan HMI melakukan demonstrasi di depan kantor Dewan Perwakil Rakyat Daerah (DPRD) Lotim, Selasa (6/9/2022). Aksi mereka kembali meneriakkan penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi.
Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun
Salah satu Orator, Aulia Habib Burrahaman menyampaikan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM ini merupakan kebijakan yang mencekik rakyat dan menyengsarakan rakyat.
“Baru saja ekonomi kita bangkit setelah terdampak Covid-19, sekarang harga BBM malah dinaikkan. Ini sangat-sangat merugikan dan membunuh rakyat,” teriaknya dalam orasinya.
Subsisidi BBM yang direncanakan akan dialihkan ke Bantuan Langsung Tunai (BLT) oleh pemerintah pusat juga dinilai hanya sebuah akal-akalan saja dan sebuah proyek, yang hanya akan dinikmati oleh segerombolan orang saja.
Selain itu, dalam orasinya ia juga menyinggung para menteri yang saat ini lebih sibuk mencari panggung dan menaikkan elektabilitasnya untuk memperoleh suara pada pemilu 2024 mendatang. Sehingga mereka lupa dengan kesengsaraan yang dialamai oleh rakyat.
Selain itu massa aksi juga menyinggung banyak uang negara yang dipergunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan terkesan menghambur-hamburkan uang negara. Seperti anggaran puluhan miliar untuk pergantian gorden rumah dinas anggota DPR RI, dan pengaspalan di sekitar gedung parlemen.
Selain menolak kenaikan harga BBM massa aksi juga meminta untuk stabilitas harga bahan pokok dan meminta agar pemerintah menunda pembangunan Ibukota baru (IKN) yang dinilai tidak berdampak langsung terhadap masyarakat.
“Persolan Ini akan terus kita kawal. Bila perlu kami akan kembali melakukan aksi yang berjilid-jilid lagi,” ancamnya.
Sementara itu Ketua DPRD Lotim, Murnan yang menemui massa aksi di depan pintu masuk DPRD Lotim mengapresiasi apa uang dilakukan oleh para mahasiswa. Namun demikian ia meminta agar massa aksi lebih tertib dan sopan dalam menyampaikan aspirasinya dan meminta agar tidak berbuat anarkis.
“Ini bukan perjuangan yang terakhir namun perjuangan kita masih panjang, kami minta agar lebih sopan dan santun dalam menyampaikan aspirasi. Kami akan tanggapi apa tuntutan saudara-saudara semua dan kami akan teruskan ke pemerintah pusat,” janjinya.
Pantauan media ini aksi unjuk rasa sempat memanas, lantaran massa aksi memaksa untuk masuk ke dalam gedung DPRD untuk berdiskusi. Namun pihak DPRD menolak dengan alasan ruangan tidak bisa menampung semua massa aksi. Setelah melakukan negosiasi yang cukup lama dan masa aksi terus mengotot untuk masuk semuanya, akhirnya semua massa aksi diizinkan masuk meski dengan kapasitas ruangan yang tidak mencukupi.
Setelah menggelar diskusi di ruang rapat, Ketua DPRD Murnan berjanji akan meneruskan semua tuntutan-tuntutan masa tersebut ke pemerintah pusat agar bisa diperhatikan dan dipertimbangkan dan diberikan solusi terkait kenaikan harga BBM.
Murnan menghawatirkan dampak terhadap kenaikan harga BBM ini tidak hanya berdampak terhadap perekonomian masyarakat saja, namun juga akan berdampak terhadap keamanan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun
“Kami berharap agar persolan ini fokus ditanggapi oleh para pemangku kebijakan dan kami juga berharap kepada demonstrans agar melakukannya dengan tertib, jangan sampai kondusifitas akan semakin berpengaruh terhadap perekonomian kita,” pungkasnya. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli






