Acara Pojok jurnalis ke-10 bersama Dinas Kesehatan Lombok Timur. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) menggelar pojok Jurnalis yang ke-10 dengan mengangkat tema Stunting dan Pengaruhnya pada Pembangunan Sumberdaya Manusia (SDM). Adapun yang menjadi pemateri ialah kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Dr. H. Pathurrahman.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Ketua Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT), Rusliadi menyampaikan acara pojok jurnalis ini diharapakan bisa meningkatkan kapasitas para wartawan yang ada di Lombok Timur khususnya yang tergabung dalam FJLT. Acar pojok Jurnalis ini merupakan yang ke-10 kali digelar dengan membahas isu-isu yang lagi hangat di tengah masyarakat, seperti isu stunting yang saat ini menjadi perhatian serius pemerintah.

“Dengan adanya acara pojok Jurnalis ini kami harap bisa meningkatkan kapasitas dan pengetahuan teman-teman wartawan di Lombok Timur dalam menulis berita,” ungkap wartawan Suara NTB ini, Senin (05/12).

Dengan mengangkat isu stunting ini juga diharapakan media bisa berperan dalam membantu tugas pemerintah untuk mengatasi persolan stunting dengan memberikan pemahaman dan edukasi terhadap masyarakat melalui pemberitaan.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur Dr H Pathurrahman mengawali materinya Menyampaiakan bahwa beberapa tahun lalu isu stunting ini tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah karena dinilai tidak terlalu urgen. Namun sejak 4 tahun belakangan ini persolan setunting malah menjadi fokus pemerintah pusat bahkan dunia.

“Persolan stunting ini bukan hanya pekerjaan Dinas Kesehatan dan DP3AKB saja, namun persolan ini butuh kerja bersama-sama dari semua pihak, terutama media. Media juga punya peran sangat penting karena dengan pemberitaannya masyarakat bisa teredukasi, percuma saja pemerintah membuat regulasi tapi tanpa media sulit untuk bisa berjalankan,” ungkapnya.

Sejauh ini banyak masyarakat dan para pihak pemgku kebijakan yang tidak paham dan salah pengertian dengan stunting ini. Sehingga salah persepsi tersebut berdampak terhadap salah penaganan dan regulasi yang akan dijalankan.

Pemahaman masyarakat terkait stunting selama ini hanyalah tinggi badan anak tidak sebanding dengan umur atau gagal tumbuh. Padahal menurutnya tidak semua anak yang pendek bisa dikatakan stunting.

Padahal kata dia, stunting adalah panjang badan anak tidak sesuai dengan umur yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan penyakit sejak dalam kandungan hingga berumur dua tahun.

“Jadi tidak semua anak pendek itu stunting bisa saja memang faktor keturunannya pendek dan Jangan ada wartawan lotim yang bilang Stunting itu penyakit, Stunting itu kalau dalam bahasa ilmiahnya Malnutrisi (kekurangan gizi),” ucapnya.

Disebutkan setidaknya ada tiga dampak yang disebakan oleh malnutrisi diantaranya overweight, kurus atau wasting pendek. Saat ini di Indonesia banyak juga ditemukan kategori stunting bukan hanya pendek saja namun juga bayak ditemukan anak yang overweight atau kelebihan berat badan tidak sesuai dengan umurnya.

“Jadi anak yang berat badanya kelebihan dari umurnya itu juga dikatakan stunting. Secara keilmuan gizi anak yang Stunting akan mengalami wasting atau kurus terlebih dahulu  hingga kemudian menyebabkan gagal tumbuh pada anak. Jik berat badan anak terus mengalami penurunan maka ini bisa dikatakan ciri-ciri anak akan mengalami stunting,” jelasnya.

Selain itu, faktor penyebab stunting ini ialah pernikahan dini karena kondisi rahim perempuan belum siap untuk melahirkan sehingga bisa berdampak anak yang dilahirkan stunting. Diitakutkan dalam stunting yakni dapat menyebabkan gagal metabolizem, dimana kejadiannya makanan yang ada tidak bisa diolah oleh tubuh anak.

Pria lulusan S3 Universitas Indonesia (UI) lebih jauh menjelaskan langkah untuk mencegah Stunting ini ialah memastikan ibu hamil tidak kekurang gizi hingga mengalami penyakit, hal itu akan berdampak pada janin yang ada, hingga istilah stunting yang mempengaruhi adalah mengenai kurangnya gizi yang diterima hingga penyakit pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Caranya adalah, pemerintah melalui posyandu yang harus di perhatikan adalah ibu dan anak Balita,” ungkapnya.

Persolan Stunting ini sebutnya saat inienjadi perhatian serius di indonesia, sebab dampak yang disebabkan ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan SDM dan banyaknya jumlah anak yang mengalami.

Dampak yang paling fatal akibat kasus ini ialah otak, sehingga berdampak pada kognitif dan bisa melahirkan penyakit lanjutan seperti obsitas bahkan bisa menyebabkan kematian.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Jika stunting tidak di cegah maka akan melahirkan generasi yang tidak sehat. kemudian jumlah anak yang mengalami stunting akan meningkat dan SDM kita,” pungkasnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here