GerbangIndonesia, Lotim – Salah seorang petani Asal Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur berhasil mengembangkan bawang merah jenis Sanren di lahan seluas 40 are. Pengembangan bawang merah jenis Sanren ini merupakan pertama di Provinsi NTB.
Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika
Ruspan Petani bawang Sanren asal Tirtanadi menyampaikan, penanaman bawang merah ini tidak seperti bawang merah pada umumnya. Dimana bawang merah ini sebelum ditanam di sawah, terlebih dahulu disemaikan ditempat terpisah selama 1 bulan 10 hari, baru kemudian dipindah ke sawah.
“Karena ini bentuknya bibit jadi kita semaikan dulu, tidak seperti bawah merah umbian, bisa langsung ditanam di sawah,” terang Ruspan saat ditemui di lahannya, Selasa (24/1).
Keuntungan menam bawang merah jenis Sanren kata dia ialah tahan di segala model cuaca. Sehingga tidak mudah rusak jika ditanam ketika musim hujan dan musim panas bahkan ketika musim ekstrim tidak seperti bawang-bawang pada umumnya.
Keuntungan lainnya ialah dari segi harga bibit. Kata dia, jika bibit bawang umbi dalam satu kuintal biasanya dibeli dengan harga Rp 5 juta. Namun bibit bawang merah ini dibeli seharga Rp 3,5 juta perkwintal dan lebih menguntungkan.
“Kalau harga bibit bawang umbi, itu sekarang harga perkuintalnya Rp 5 juta. Tapi kalau yang ini hanya Rp 3,5 juta perkwintalnya, jadi bisa lebih hemat pengeluaran,” ungkapnya.
Karena bawang merah sanren ini baru pertama kali dikembangkan di NTB, sehingga petani-petani di Lombok Timur khususnya di Tirtanadi sendiri banyak yang belum tahu cara pengembangannya sehingga lebih memilih untuk menanam bawang merah biasa. Akan tetapi pengembangan bawang ini saat ini sudah mulai dilirik oleh para petani.
Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB
Sementara itu, dari sisi hasil panen, kata dia tergantung faktor cuaca. Hasil panen yang didapatkan pada musim hujan hanya bisa mendapatkan 1 kwintal. Akan tetapi jika ditanam pada musim panas maka hasilnya bisa mencapai 2 kwintal perare. (par)
Editor: Lalu Habib Fadli







