
GerbangIndonesia, Lombok Utara — Di balik sunyi kebun kakao Desa Genggelang, sebuah perubahan besar tengah dirajut. Kampung Senara, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai sentra kakao tradisional, kini bersiap mencuri perhatian pasar nasional. Semua bermula dari sinergi tak biasa: literasi, hilirisasi, dan kepemimpinan perempuan.
Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen
Dalam Focus Group Discussion bertema “Penguatan Literasi Inklusif dan Rantai Pasok Komoditas Kakao”, Senin (02/06/2025), Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menyerukan pentingnya transformasi industri desa melalui pemberdayaan petani dan UMKM lokal.
“Potensi Kampung Senara luar biasa. Tapi selama ini, 90 persen produksi kakao masih dijual mentah. Hanya sebagian kecil yang diolah. Padahal dari rasa, produk olahan mereka sudah sangat kompetitif,” tegas Heny di hadapan para petani, OPD, dan mitra pendamping desa.
Ia menyoroti bahwa penguatan literasi tidak boleh terbatas pada buku dan bacaan, tetapi harus menyasar keterampilan pengolahan, kemasan, legalitas produk, hingga strategi pemasaran. Bhayangkari, katanya, siap menjadi motor promosi untuk membawa produk Senara ke ajang Bazar Nusantara Bhayangkari se-Indonesia bulan Juli mendatang.
“Bhayangkari tak hanya hadir sebagai mitra sosial, tapi juga sebagai jembatan pasar bagi UMKM desa. Kami ingin membawa produk desa ke Jakarta, bukan sekadar mendatangkan produk kota ke desa,” tegas Heny penuh semangat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Lombok Utara, Ir. Mochammad Wahyu Dharmawan menambahkan bahwa literasi implementatif menjadi pendekatan utama dalam program ini.
“Kami tidak hanya mengajarkan membaca. Tapi mengajarkan bagaimana pengetahuan itu diubah menjadi pendapatan, dan budaya baca menjadi budaya kerja produktif,” ujar Wahyu.
Kampung Senara kini menjadi role model dari upaya penguatan literasi berbasis potensi ekonomi desa. Bersama Disperindag, Dispusarsip tengah menata jalur legalitas produk agar UMKM coklat Genggelang bisa menembus pasar formal dan retail modern. Sertifikasi halal, BPOM, label SNI dan masa kadaluarsa menjadi prioritas pembenahan.
“Kami juga akan menggandeng Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata. Ini bukan program satu dinas. Ini orkestrasi. Kalau semua bergerak bersama, Senara bisa menjadi ikon hilirisasi komoditas NTB,” tegas Wahyu.
Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity
Transformasi yang tengah dirintis di Kampung Senara menjadi bukti bahwa masa depan ekonomi desa tidak lagi bergantung pada harga komoditas mentah. Dengan kolaborasi dan literasi sebagai fondasi, desa bisa menjadi produsen unggulan yang menembus batas pasar, dari lokal ke nasional. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli






