Pagi itu, udara Dusun Batu Santek, Desa Giri Madia, Kecamatan Lingsar, terasa berbeda. Di antara deru mesin molen dan suara adukan semen, tawa warga mengalun riang. Di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, mereka bahu-membahu melanjutkan pengecoran Jembatan Sasaran 3 Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 1606/Mataram, proyek yang diharapkan menjadi urat nadi baru bagi dua desa di kaki Gunung Rinjani itu.
Baca Juga: NTB Panen Medali di Porwanas Banjarmasin, Buntuti Tuan Rumah di Posisi Puncak Klasemen
Namun yang paling mencuri perhatian pagi itu bukanlah jembatan yang tengah dicor, melainkan dua sosok berseragam yang datang membawa sesuatu yang tak biasa, sebuah gayung besar berisi tuak manis dan beberapa bungkus makanan ringan.
Mereka adalah Serma N. G. Manafe, Babinsa Desa Giri Madia, dan IPDA I Komang Sumandrayasa, Bhabinkamtibmas Desa Dasan Geria. Dengan senyum lebar, keduanya menyusuri area kerja, menyapa satu per satu warga, lalu menuangkan tuak manis ke dalam gelas-gelas plastik yang disodorkan oleh tangan-tangan yang masih kotor oleh semen.
“Tuak manis ini bukan sekadar pelepas dahaga, tapi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong,” ujar Serma Manafe sambil menyerahkan segelas tuak kepada seorang warga.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa aparat selalu hadir, bukan hanya memantau, tapi ikut menjadi bagian dari mereka,” ujarnya.
Di antara peluh dan debu, suasana penuh keakraban terasa begitu hangat. Warga, aparat, dan perangkat desa duduk bersama di bawah pohon, menikmati jeda sejenak sambil meneguk tuak manis hasil panen lokal.
“Kami tidak ingin sekadar menjadi pengawas, tapi bagian dari masyarakat itu sendiri. Karena pembangunan desa hanya akan berhasil jika dilakukan bersama,” kata dia penuh semangat.
Bagi M. Saleh (49), warga Desa Dasan Geria, kebersamaan itu begitu menyentuh hati. “Kami merasa seperti keluarga besar. Babinsa dan polisi tidak hanya memberi contoh, tapi juga ikut bekerja dan peduli pada kami,” ujarnya lirih, sambil memandangi jembatan yang mulai tampak bentuknya.
Bagi sebagian orang, mungkin kegiatan itu terlihat sederhana sekadar pengecoran jembatan desa. Namun bagi masyarakat Batu Santek dan Dasan Geria, peristiwa itu menyimpan makna yang jauh lebih besar.
Di tengah perubahan zaman dan gaya hidup yang kian individualis, gotong royong seperti ini menjadi penanda bahwa semangat kebersamaan masih hidup. Bahwa di balik seragam loreng dan cokelat aparat, ada hati yang ingin menyatu dengan rakyatnya.
“Program TMMD tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun rasa saling percaya dan kebersamaan antara TNI, Polri, dan masyarakat,” ,” ungkap salah satu anggota Satgas TMMD yang turut hadir.
Baca Juga: PLN Icon Plus dan Pemprov NTB Bersinergi Wujudkan Bumi Gora Menuju Green & Smart Productivity
Ketika pagi berganti siang, warga masih bekerja dengan semangat yang sama. Jembatan itu perlahan berdiri kokoh, menjadi simbol bukan hanya penghubung dua wilayah, tetapi juga pengikat hati dan persaudaraan antara aparat dan rakyat. Karena di setiap adukan semen dan setiap tegukan tuak manis, tersimpan cerita hangat tentang Indonesia yang tetap hidup dalam semangat gotong royong. (*)
Editor: Lalu Habib Fadli








