
Gerbangindonesia, Lombok Utara – Kabar gembira datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lombok Utara, salah satu pegawai mereka berhasil dinobatkan sebagai tenaga kesehatan teladan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia adalah Aga Purbayu Amd.AK,. Penghargaan tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi NTB untuk penilaian tahun 2026.
Diungkapkan Kepala Bidang Humas RSUD Lombok Utara Okta Santika Iriani S.kep., Ners., tim penilai berasal dari berbagai unsur yang memang kompeten di bidang kesehatan. Terdiri juga dari unsur berbagai organisasi profesi seperti IDI, PPNI, IAI, IBI dan lain-lain.
“Jadi penilaiannya dilakukan secara objektik berdasarkan indikator atau format penilaian yang telah ditentukan panitia,” ujarnya, Sabtu (08/08/2026).
Menurutnya, Aga Bayu sebagai tenaga ahli teknologi laboratorium medik di RSUD Lombok Utara berhasil mengharumkan nama layanan kesehatan terbesar di Kabupaten termuda di NTB tersebut. Tentu ini merupakan booster bagi perawat dan tenaga medis lain ditengah dinamika pelayanan kepada pasien.
“Hal ini menjadi pelecut semangat bagi kita semua karena tentu reward ini akan meningkatkan kinerja dan diharapkan bisa menjadi contoh bagi tenaga medis lain di RSUD secara khusus dan di Lombok Utara secara umum,” kata dia.
Dijelaskan, dalam penilaian tersebut terdapat cukup banyak aspek. Tidak hanya melihat inovasinya saja, tetapi juga manfaatnya kepada pelayanan masyarakat, bagaimana dampaknya kepada peningkatan mutu pelayanan, apakah dapat diterapkan secara berkelanjutan, bisa direplikasi di tempat lain sampai bagaimana kita mepersentasikan.
“Terlebih untuk menjawab pertanyaan, dan mempertanggung jawabkan inovasi tersebut didepan dewan juri. Dewan juri juga menguji wawasan kita tentang kesehatan yang berkaitan dengan inovasi kita,” tandasnya.
Sementara itu, Aga Purbayu Amd.AK,. menambahkan, program yang dirinya bawa yakni menyangkut inovasi SILAK BATUR (sistem pelaporan hasil kritis laboratorium teriintegrasi) yaitu sistem yang mengintgrasikan LIS, SIMRS dan whatsapp. Jadi jika ada hasil laboratorium yang masuk kategori kritis, informasinya terlaporkan ke nomor WhatsApp dokter pengirim otomatis melalui SIMRS.
“Dan seluruh pelaporan terdokumntasi secara digital, jadi lebih mudah untuk dipantau, dievaluasi, diaudit sehingga tentu mendukung keselamatan pasien,” jelasnya.
Ia menilai, jika bicara digitalisasi, mungkin sudah ada Rumah Sakit lain yang telah menerapkan. Tapi setiap Rumah Sakit tentu punya kebutuhan yang berbeda. Dan yang ia lakukan adalah mengembangkan sistem yang sesuai dengan kebutuhan RSUD Kabupaten Lombok Utara.
“Poin lebihnya, inovasi ini dikembangkan tanpa biaya tambahan, hanya memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di RS,” pungkasnya.(iko)






