Event Dewa Mopon Cup ke-V. FOTO IST/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lombok Tengah – Budaya begasingan semakin hari semakin memudar. Bahkan banyak generasi muda yang tidak mengenal permainan budaya ini.

Baca Juga: Ternyata Indonesia Awalnya Bersaing dengan Meksiko dan Brazil, ITDC: Ezpeleta Pilih Mandalika

Melihat hal itu, Dewa Mopon sebagai salah satu paguyuban begasingan di Lombok Tengah menghidupkan kembali permainan budaya ini.

Melalui Dewa Mopon Cup ke-V, sebanyak 30 paguyuban dari se-Pulau Lombok berlaga sejak tanggal 28 Maret lalu. Masing-masing kelompok mengirimkan 10 orang jagoannya untuk berlaga dalam ajang permainan budaya ini.

Sponsor acara ini, Ahmad Rifa’i yang juga anggota Komisi I DPRD Lombok Tengah menyatakan, kegiatan ini pada awalnya diselenggarakan atas keperihatinan atas tergerusnya budaya lokal di zaman ini. Padahal, budaya lokal bisa menjadi salah satu tameng untuk generasi muda.

“Dan ini akan kami upayakan menjadi sebuah event dalam bingkai pariwisata budaya,” ungkap politisi PKS ini.

Dia menambahkan, pengembangan seni budaya ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Sebab jika tidak maka budaya asli Lombok akan musnah sepenuhnya seiring berkembangnya teknologi dan zaman.

Sehingga secara konsisten, anggota dewan 2 periode ini mengalokasikan khusus dari dana aspirasi untuk kegiatan semacam ini.

“Kami mendorong melalui Dinas Pariwisata Lombok Tengah,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan Rifa’i, ke depannya pihaknya akan mendorong kegiatan serupa. Misalnya adalah lomba seni Pembayun, lomba engklek dan sejumlah seni lokal lainnya.

“Kita ingin generasi muda kita tahu bahwa kita kaya akan budaya dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja,” tukasnya.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini juga sebagai salah satu agenda tahunan dalam rangka tasyakuran atas telah dilaksanakannya panen raya di Desa Lekor beberapa waktu lalu. Terlebih hasil panen juga tidak mengecewakan petani.

Sementara itu, Ketua panitia Dewa Mopon Cup ke-V, Mindri S.Pd menuturkan, persiapan yang dilakukan panitia sudah sangat baik. Mulai dari mengundang paguyuban begasingan se Pulau Lombok hingga pelaksanaan acara.

“Walaupun waktu itu kami juga melaksanakan di bulan Ramadhan, tapi tetap semangat peserta tidak padam sama sekali,” bangganya.

Dibeberkan, ada total 300 pepadu gasing dari 30 paguyuban yang mendaftar dalam ajang bergengsi ini. Masing-masing paguyuban mendaftar dengan uang Rp 500 ribu untuk memperebutkan total hadiah Rp 22 juta.

“Tahun ini yang mendaftar jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya, ya meningkat signifikan,” sambungnya.

Di lapangan gasing Pepao Barat, akhirnya Paguyuban Gasing Siluman dari Selong berhasil meraih juara ke III setelah mengalahkan Paguyuban gasing Elang Perkasa dari Embung Karung Montong Gamang, sementara juara I diraih oleh Paguyuban gasing Tunggal Galih dari Denggeng Sakra Lotim setelah melibas paguyuban gasing Jerman dari Jeruk Manis Sikur Lotim. Sementara itu, tuan rumah paguyuban Dewa Mapon harus rela tersingkir sebelum semi final.

“Kami sangat bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini, apalagi kami dijanjikan oleh Dinas Pariwisata akan dipertemukan dengan Menpar RI untuk membahas agenda menjadikan event ini sebagai objek pariwisata,” syukurnya.

Sebagai informasi, panitia menyiapkan hadiah untuk juara I berupa seekor sapi seharga Rp 9 juta, juara II berupa seekor sapi seharga Rp 7 juta, juara III berupa uang tunai sejumlah Rp 4 juta dan juara IV berupa uang sejumlah Rp 2 juta.

Baca Juga: Cerita Warga Berau Melepas Rindu Setelah 9 Tahun Menunggu Kedatangan TGB

“Selain itu kami juga menyiapkan hadiah bagi pemain terbaik dan hadiah hiburan bagi penonton,” tandasnya. (fiq)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here