Di balik ruang kelas sederhana Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Pemenang Barat, Kabupaten Lombok Utara, sebuah lembar jawaban digital mengukir torehan sejarah yang sunyi namun menggelegar. Di atas layar pemantau Tes Kemampuan Akademik (TKA) nasional tahun 2026, sebuah angka mutlak tersemat di samping nama Saniatun Komariah, yakni nilai 100. Sebuah nilai sempurna untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Gadis kecil ini seketika menjadi buah bibir. Di tengah riuh rendah 4.507 peserta didik dari berbagai penjuru Nusantara yang mengikuti ujian serupa, langkah kecil Saniatun dari pesisir Lombok Utara berhasil menembus jajaran elite pelajar nasional.

Torehan ini terasa begitu emosional dan istimewa bagi bumi Dayan Gunung. Sudah bukan rahasia lagi jika peningkatan kualitas literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang bagi sektor pendidikan di Lombok Utara. Namun, dari lembar jawaban Saniatun, daerah ini seolah mengirimkan pesan kuat kepada Indonesia bahwa keterbatasan bukanlah sekat untuk meraih puncak prestasi.

Keberhasilan ini bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Di mata wali kelasnya, Zulpiana Romdani, Saniatun adalah potret anak daerah yang melangkah dengan kedisiplinan dan kerja keras yang tinggi. Di balik ketenangannya, ada ketekunan luar biasa yang ia tunjukkan setiap kali melahap lembar-lembar simulasi dan pendalaman materi menjelang hari ujian.

“Alhamdulillah, ini murni hasil kerja keras mereka. Kami sebagai pendidik di sini hanya memfasilitasi, mengarahkan, dan menemani mereka melalui berbagai simulasi agar mental mereka siap,” tutur Zulpiana penuh haru.

Senada dengan sang guru, Kepala SDN 4 Pemenang Barat, Sujaah memandang prestasi anak didiknya sebagai cambuk pelecut semangat. Baginya, nilai 100 dari Saniatun adalah awal dari perjalanan panjang sekolahnya untuk terus berbenah.

“Kami bangga, tapi tidak boleh cepat berpuas diri. Langkah ke depan harus lebih matang. Hari ini Bahasa Indonesia, esok hari kami ingin nilai sempurna itu juga lahir dari mata pelajaran lainnya,” ucap Sujaah optimistis.

Kabar baik ini pun berembus hingga ke ruang kerja Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Lombok Utara, Muhamad Najib. Saat ditemui pada Jumat (12/06/2026), guratan senyum kepuasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Bagi Najib, capaian Saniatun adalah sinyal konkret bahwa rapor pendidikan Lombok Utara di bidang literasi mulai merangkak naik ke arah yang menggembirakan.

“Kita sangat bersyukur. Prestasi ini tentu menjadi oase dan kabar baik yang sangat menyegarkan bagi dunia pendidikan di Lombok Utara,” ungkap Najib dengan nada bangga.

Najib menceritakan bahwa selama beberapa tahun terakhir, jajarannya memang tengah bergerilya mengubah wajah TKA. Ujian yang dulunya menakutkan dan penuh tekanan, perlahan diubah formulanya melalui rentetan try out dan simulasi yang humanis. Pemerintah daerah ingin anak-anak menghadapi ujian dengan perasaan gembira tanpa beban, sehingga kemampuan murni mereka dapat memancar secara objektif.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara kini tengah menimang-nimang penghargaan yang tepat untuk menyambut kepulangan sang siswi berprestasi. Namun, Najib menekankan bahwa penghargaan tersebut tidak akan melulu diukur dengan materi.

“Nanti jangan hanya diterjemahkan dengan materi belaka. Bentuk apresiasinya sedang kami godok dan evaluasi, mudah-mudahan bisa kita anggarkan dengan baik demi masa depan anak-anak kita,” pungkasnya menutup perbincangan.

Dari sudut utara Pulau Lombok, Saniatun Komariah telah membuktikan bahwa keteraturan tata bahasa dan kedalaman literasi bukan sekadar deretan teori di buku paket, melainkan jembatan yang membawa mimpi seorang anak sekolah dasar menuju panggung penghormatan tertinggi di tingkat nasional. (*)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here