Saepuddin Zohri salah satu petani tomat saat memanen tomat di sawahnya di Desa Aikdewa Kecamatan Peringgasela. FOTO SUPARDI/GERBANG INDONESIA

GerbangIndonesia, Lotim – Harga tomat di Lombok Timur anjlok, mencapai Rp 700 perkilo. Hal ini membuat para petani mengalami kerugian hingga jutaan rupiah.

Salah seorang petani di Desa Aik Dewa, Kecamatan Peringgasela, Saepuddin Zohri mengatakan, sebelumnya harga tomat perkilonya mencapai Rp 25 ribu. Namun sejak panen pertama hingga panen kelima, harga tomat turun drastis sehingga dirinya mengalami kerugian jutaan rupiah.

Baca Juga: Soal Calon Sekwil NasDem NTB, TGH Fauzan: Santai, Jangan Tegang!

“Modal aja belum bisa balik. Apa itung untung. Sekali panen 6 kwintal, pertama panen itu harganya masih Rp 3 ribu kemudian panen kedua Rp 2 ribu, sekarang kelima ini kurang seribu,” bebernya saat ditemui di sela-sela kegiatanya memanen tomat, Selasa (12/10).

Saat ini, kata Saepudin, dirinya tidak lagi menjual tomatnya perkilo namun dirinya memilih menjual perkeranjang di pengepul dengan kisaran harga Rp 30-35 ribu perkeranjangnya.

Ia meyebutkan, kualitas tomatnya sangat bagus dan segar-segar tidak ada tomat yang rusak atau mati dan biasanya dirinya bisa panen sampai delapan kali.

“Iya apa yang mau kita perbuat dengan harga yang sekarang, ndak kita panen tomat ini jadi sia-sia di sawah, terpaksa kita jual murah ke pengepul. Pengepul juga ngeluh dengan harga sekarang ini,” katanya.

Petani lainnya Zainuddin juga mengeluhkan merosotnya harga tomat. Saat ini dirinya tidak bisa berbuat banyak selain menjual harga murah kepada para pengepul.

“Dari pada tomat ini rusak semuanya di sawah. Malah kadang kita sedekahkan ke warga sekitar. Siapa yang mau ambil, ambil aja!” ulasnya.

Dirinya berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim bisa membantu untuk menstabilkan harga tomat. Minimal Rp 5-6 ribu perkilonya, sehingga para petani tidak terlalu merugi atau setidaknya modal bisa kembali.

Baca Juga: Gelaran Superbike Kado Terindah HUT TNI ke-76

“Iya kalau tidak bisa harga Rp 10-20 ribu perkilo, agar kita tidak terlalu rugi. Minimal modalnya bisa baliklah. Mau bagaimana lagi sabar aja jadi obatnya,” tutupnya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here