Pance Subrata

Oleh: Pance Subrata

“Sabar lan tawakal rejeki wis ono sing ngatur”. Kalimat di atas adalah sebuah narasi yang menenangkan, tapi tidak membahagiakan. Menenangkan karena yakin rizki saya, kamu dan dia sudah ada yang mengatur. Sudah ada yang memastikan, jika rizki itu pasti akan tiba di pangkuan dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Bahkan tanpa kerja keras pun kita tetap bisa menikmati rizki itu, seperti sugeng waras, aman tentrem juga guyub rukun.

Baca Juga: Hujan di Sirkuit, Pawang Hujan Bilang Permintaan dari Pembalap!

Tapi hidup bukan hanya perkara itu. Ada hal-hal lain sebagai pelengkapnya. Kamu punya kebutuhan untuk aktualisasi diri. Kamu punya kebutuhan untuk gayeng bareng teman-teman kamu, semisal kongkow diangkringan sesekali. Ngajak anak dan istri piknik minimal tiga bulan sekali, serta kebutuhan-kebutuhan lain di luar anggaran bulan yang tidak diduga.

Dan itu banyak macemnya seperti kondangan, tilik tonggo yang lagi sakit, tilik bayi tetangga atau sedulur yang baru lahiran juga printilan-printalan lainnya. Ini semua dilakukan sebagai tepo sliro warga yang tinggal didesa , juga Sebagai bentuk supporting wisdom javanese culture.

***
Sebagai ayah dua putri, saya dituntut untuk menjadi kreatif serta rajin tirakat. Jika harus menghidupi keluarga dengan standart UMK yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, yang nominalnya sebesar Rp 2.001.000 pertahun 2022 ini. Bagaimana tidak, dengan nominal tersebut saya dan istri harus pandai menyiasati pengeluaran di setiap bulan. Meskipun sudah diakali sedemikian rupa, terkadang masih terlalu sering banyak kurangnya.

Untuk memenuhi asupan gizi sekeluarga, setiap bulan saya dan istri harus mengatur uang sebesar Rp 1.000.000, supaya dapat menu harian yang sehat dan mengenyangkan. Dengan perhitungan sebagai berikut, Rp 300.000 dialokasikan untuk membeli beras, karena rata-rata dalam satu bulan kami sekeluarga menghabiskan beras 30 kilogram. Dengan harga beras Rp 10.000 perkilogramnya.

Maka sisa uang Rp 700.000 kami kelola untuk belanja lauk harian selama 30 hari. Artinya jatah perhari adalah Rp 23.300. Nah.. dengan uang belanja harian tersebut, Alhamdulilah sudah bisa untuk makan kami berempat sebanyak 3 kali dalam sehari. Yah.. meski dengan lauk yang sederhana, dan cenderung kurang bervariatif. Prinsip utama dari bab konsumsi di keluarga kami adalah; biar pun lauknya sederhana yang penting nasinya banyak.

Untuk selanjutnya, Rp 200.000 kami gunakan untuk biaya pulsa listrik selama satu bulan. Karena tidak banyak alat elektronik dirumah kami, jadi bisa berhemat, asalkan rumah terang di malam hari. Bisa untuk masak nasi dan pompa air tidak terhambat. Itu sudah lebih dari cukup untuk keluarga kami. Selebihnya hanya untuk ngecas hp dan hiburan nonton sinetron “Ikatan Cinta”.

Sebenarnya untuk kuota internet, saya dan istri bisa sangat berhemat. Tapi kedua anak saya punya kebiasaan kurang baik, kalau makan harus disambi nonton Youtube. Ini yang bikin kami gagal berhemat. Jadi Rp 200.000 wajib kami sisihkan untuk membeli kuota setiap bulannya. Rp 100.000 untuk saya dan Rp 100.000 untuk istri. Sekarang saya merasa sangat bersalah telah mengenalkan gadget terlalu dini kepada anak saya dan saat ini kami sedang dalam proses mengurangi paparan Handphone kepada anak-anak kami. (mohon doanya ya guys, biar bisa hemat kuota).

Untuk masalah selera dan rasa masakan, kami tidak bisa kompromi, meskipun hanya sekedar bumbu dasar. Hukumnya wajib bagi kami untuk menyetoknya di setiap bulannya. Minimal sayur lodeh yang kami masak, tidak terasa hambar ketika dicampur dengan nasi putih. Jadi khusus untuk belanja bumbu bulanan, kami mengalokasikan Rp 200.000. Rinciannya Rp 100.000 untuk bumbu dasar, dan Rp 100.000 untuk beli minyak goreng, termasuk beli gas melon 3 kiloan, yang ditabungnya tertulis “khusus rakyat miskin”.

Susu kesukaaan anak saya selain ASI dari ibunya, adalah susu Bebelac dan susu mimi kotak kecil. Khusus untuk susu non ASI, saya tidak bisa mendapatkannya secara gratis dan tidak bisa mengambil manfaatnya secara bergantian dengan anak-anak saya. Saya tetap harus menyiapkan budget setidaknya Rp 200.000 setiap bulan.

Saya tidak mau mengambil risiko dengan mengurangi jatah susu anak saya, selain cuacanya lagi kurang bersahabat dan banyak orang sedang terjangkit virus Megatron. Eh Omicron maksudnya. Saya tidak mau anak saya jadi kurang sehat karena dikurangi jatah susunya, mereka tetap harus minum susu meski harga susu Bebelac untuk anak kedua saya lumayan mahal. Sekitar Rp 125.000 perkalengnya. Dan itu saya tetap harus beli, sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah.

Sedangkan harga susu mimi kotak kecil adalah Rp 3.000 dikali 30 hari maka totalnya Rp 90.000. Itu artinya saya tombok Rp 30.000. Sekali lagi tidak apa-apa, saya harus tetap membelinya sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah.

Untuk alokasi terakhir masih ada uang tersisa Rp 300.000, apakah ini bisa digunakan untuk berfoya-foya? Apakah sisa uang ini bisa disimpan sebagai tabungan untuk jaminan hari tua nanti? Oh tentu tidak. Karena masih ada biaya BPJS kelas 3 yang harus kami bayar sebesar Rp 140.00 untuk kami berempat. Lalu masih ada sisa Rp 160.000. Apakah sisa uang ini bisa digunakan untuk healing-healingan? Sekali lagi tidak bisa!!! Saya masih harus beli sabun untuk mandi, pasta gigi, detergent untuk mencuci pakaian kami sekeluarga.

Hanya tersisa Rp 1.000 dari 2.001.000, sisa uang inilah yang kami simpan untuk tabungan di hari tua. Sebagai dana tak terduga, sebagai tabungan pendidikan untuk kedua anak kami, sebagai biaya self healing kami sekeluarga. Joss tenan!!

Jika melihat pengaturan uang di atas, kira- kira butuh waktu berapa lama bagi mereka yang belum punya rumah untuk membelinya? Karena rumah adalah item penting dalam kehidupan (berumah tangga). Apesnya harga tanah dan rumah di Jogja sudah tidak ramah lagi di kantong. Kalau pun mau menyicil KPR kira-kira bisa dapat yang tipe berapa? Serta berapa lama durasi pembayarannya? Terus pos pengeluaran mana yang harus dipangkas untuk bayar tagihan KPR? Serta masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Sidang pembaca yang terhormat bisa saja memberikan pendapat “seharusnya kamu bersyukur dengan rejeki segitu”. Betul sekali saya dan keluarga memang sangat bersyukur, karena tidak menanggung biaya kontrakan rumah. Kebetulan buat kami masih tinggal bareng orang tua istri (mertua saya). Kebetulan lagi istri saya adalah anak tunggal (karena kakaknya meninggal beberapa tahun lalu). Boleh dikatakan saya sangat beruntung dalam situasi ini.

Tapi bagaimana dengan warga lain yang masih mengontrak rumah atau tinggal di kosan? Mereka yang bahkan pendapatanya masih di bawah UMK? Apakah mereka juga harus tetap bersyukur? Misalnya, dengan kondisi yang sama seperti keluarga saya, yang memiliki 4 anggota keluarga. Ini baru perkara rumah. Belum lagi pendidikan. Meskipun di beberapa sekolah negeri tidak dipungut biaya alias gratis, tapi alat-alat penunjang sekolah tetap harus dibeli (dan tidak murah).

Buku tulis beli. Pensil dan pulpen beli. Nganter anak ke sekolah harus dibeli bensinnya. Belum lagi jika sekolah mewajibkan pembelajaran jarak jauh (online) karena PPKM yang belum tau kapan selesainya. Mereka harus tetap beli kuota. Sekali lagi itu butuh uang. Miris memang menjadi warga menengah ke bawah di Provinsi DIY, jika tidak mau dikatakan nelangsa.

Jadi dibutuhkan pemasukan tambahan untuk memenuhi semuanya, karena sangat jelas mengandalkan UMK hanya akan berakhir pada “sabar lan tawakal” pada kondisi ekonomi yang ada. Boro-boro bisa ngopi cantik di cafe-cafe estetis untuk memenuhi gaya hidup, bisa memastikan bulan depan ada uang untuk belanja keperluan keluarga saja sudah Alhamdulilah. Boro-boro bisa bikin insta story lagi hang out di mall bareng keluarga, lha wong duit buat nyicil motor bulan depan aja belum kelihatan.

Baca Juga: Stok Pangan Tiga Bulan ke Depan Masih Aman, Bagaimana Minyak Goreng?

UMK Kabupaten Sleman yang terbaru, mungkin cocok bagi mereka yang masih menjomblo dan tinggal di rumah orangtuanya. Harus ada strategi kreatif dan mumpuni supaya bisa bertahan dengann UMK yang minim. Atau usaha yang mudah dijalankan, tidak banyak mengandung risiko, serta hasil yang maksimal. Kira-kira usaha apa ya lur??

Jogja yang dulu dikenal berhati nyaman, kini sudah mulai bikin maktratap dag dig dug duer untuk banyak warga kelas ekonomi menengah ke samping dan ke bawah. Jika tetap bertahan dengan pendapatan sesuai standart UMK Kabupaten Sleman, lantas kualitas hidup macam apa yang bisa kamu berikan kepada keluargaku?

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here