Sitti Humairaq pengolah limbah daun nanas menjadi serat. FOTO SUPARDI/ GERBANG INDONESIA

Gerbangindonesia, Lotim – Siti Humairaq, gadis asal Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur berhasil mendaur ulang limbah daun nanas menjadi serat dan berbagai kerajinan yang bernilai ekonomis.

Baca Juga: Pemilihan DPD RI Dapil NTB 2024, Pendatang Baru Berpotensi Tumbangkan Petahana

Humairaq menceritakan, pekerjaan itu mulai digeluti bermula saat salah satu dosennya berkunjung ke rumahnya dan saat itu banyak limbah daun nanas yang berserakan yang dibuang oleh masyarakat setempat. Sehingga ia bersama dosen itu berinisiatif untuk mengolahnya menjadi serat yang bisa mendatangkan rupiah.

“Saat itu dosen saya langsung memperkenalkan saya kepada Bank Sampah NTB Mandiri untuk mengolah limbah-limbah daun nanas ini untuk menjadi sebuh kerajinan yan bernilai ekonomis,” beber Humairaq, saat ditemui di tengah-tengah kesibukannya, Rabu (3/8).

Setelah diperkenalkan dengan Bank Sampah, dirinya lantas mendapatkan dukungan berupa pengadaan mesin pengolah limbah daun nanas menjadi serat dari Bank Sampah NTB Mandiri. Dengan bantuan itu lantas menjadi peluang bagi dirinya dan mampu memberdayakan masyarakat setempat khusunya petani nanas.

Disebutkannya, di Desa Jurit terdapat sekitar 40 persen lahan dipergunakan untuk menanam nanas. Sehingga tidak menutup kemungkinan limbah daun nanas yang dihasilkan cukup bayak. Setelah adanya mesin pengolah itu kini libah-limbah daun nanas itu ia beli dengan harga Rp 30 ribu perkwintalnya dari para petani.

“Pengolahan daun nanas ini tergolong tidak begitu mudah dan juga tidak begitu sulit. Soalnya untuk mendapatkan serat yang berkualitas itu harus dijemur dulu setelah diolah. Jadi setelah limbah ini diolah di mesin pencacah, seratnya langsung kita jemur,” jelasnya.

Sementara itu untuk pengolahan limbah daun nanas ini tidak dilakukan setiap harinya, namun perlu menunggu masa panen tiba untuk bisa mendapatkan daunnya. Selain itu jika musim penghujan tiba pengolahan juga tidak bisa dilakukan. Sebab serat nanas yang telah diolah tidak bisa dijemur yang bisa berdampak pada kualitas benang yang dihasilkan.

Sejak tahun 2020 lalu, ia hanya mengandalkan dua mesin pencacah saja dan hanya mampu menghasilkan 1 Kg serat nanas dalam sepekan. Namun saat ini produksi yang dihasilkan semakin bertambah sekitar 4-5 Kg setelah adanya dua tambahan mesin pencacah.

“Biasanya dalam 1 kwintal limbah daun nanas itu kita hanya bisa medapatkan 1 Kg serat, sementara untuk harga serat ini Rp 100 per-Kg,” Sebutnya.

Dikatakan Humairaq kulaitas benang yang dihasilkan dari serat nanas ini dinilai lebih baik dari benag biasa baik dari segi kekuatan, tahan lama maupun yang lainnya. Sementara benang-benang yang dihasilan dari serat-serat itu biasanya dijadikan berbagai produk. Seperti baju, tas, sepatu dan produk-produk lainnya.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Mendatangkan MotoGP Kembali ke Indonesia, Setelah Absen 25 Tahun

Dirinya berharap dari hasil penjualan kerajinan itu nantinya bisa membuat gedung khusus untuk produksi dan pengadaan alat lainnya. Mengingat saat ini ia hanya menggunakan teras rumahnya sebagai lokasi produksi dengan dibantu oleh orangtuanya. (par)

Editor: Lalu Habib Fadli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here